• Categories

  • Yang Terbaru

  • Archives

  •  

    November 2009
    M T W T F S S
    « Sep    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Jejak Rekam

The Role of Islamic Student Association (HMI) Against 30 September Movement in Padang (1965-1967)

by Israr

Students played an important role in confronting communist political movement in Padang City during 1965-1967. Their participation affected the political constellation in the ‘New Order’. Their actions clearly occurred after ‘the 30 September Movement’ (Gerakan 30 September - G30S) with involvement of Indonesian Communism Party (PKI) exploded in central Jakarta in 1965. These students action was not only can be seen in long march and protests event but also in social actions.

Student’s movement in opposing communism can be said as reformist group. Their movement became a turning point for their existence to reduce the power of communist group and ‘guided democracy’ regime at that time. Student’s movement had widely spread not only in the central Jakarta which known as center of political movements, but also in some regions including Padang City, a region in West Sumatra with large number of students in several universities.

In Padang, Islamic Students Association (Himpunan Mahasiswa Islam-HMI) had a significant role against communist movement. Additionally, they also practiced the ‘revenge politics’ to the strong power of Soekarno regime with his ‘Old Order era’. In West Sumatra, the power of Old Order era was associated with ‘enemy’. This idea came up because of Indonesian Communist Party under ‘protection’ of the Old Order era. Furthermore, the regime in this era crushed the movement of the Revolutionary Government of the Indonesian Republic (Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia – PRRI) in 1958-1961. PRRI is a political movement of West Sumatran people who did not satisfied with the Soekarno regime government in central Jakarta that practice centralized system and ‘guided democracy’. This movement was supported by people in West Sumatra, such as students and politicians. History recorded in the late fifties, activists of HMI in Padang and West Sumatra became a major organization who supported the PRRI movement.

As a large student organizations, member of HMI after G30S in 1965 had major role to maintain the New Order era which led by military in central Jakarta, Their role were not only in Jakarta but also had an impact on other provinces, such as West Sumatra and Padang. Since the early of New Order era, activists of HMI expanded and dominated in some universities in Padang. Furthermore, HMI alumni widely spread to the political field and other fields including economic and education. This involvement of activists of HMI was a part of their consolidation to the New Order in West Sumatra.

LOCAL NEWSPAPERS AND FACE OF KILLER:A Verbal Violence in Indonesian Journalism 1966-1979

by Yudhi Andoni

This is a brief discusses about hidden violence in Indonesian journalism, particularly local newspapers that published at Padang, West Sumatra, Indonesia. They are “Angkatan Bersenjata”, “Aman Makmur”, “Haluan”, and Singgalang. In west Sumatra, they are one of many generate of violence with their news and articles about communist party and its follower’s organization. This article calls it a verbal violence. Their news and articles have gone down a lot of abhorrence into the communist, mainly on months before, the episode, and after The Movement of September 30th. I found many words refer to drive the peoples into social’s scream about communist. Atheist, betrayer of nation, killer of Muslims, a social treatment, etc, are idiom that they used. For the reader, those idioms have created negative stigma about communist and show them that revenge is a good way to erase the communist party in their land, especially after gloomy period of PRRI (Indonesian Republic Revolutionary Government) in 1958.

For the Minangkabaunese, PRRI is a correction to Jakarta and they feel they have moral task to remain Jakarta. History of PDRI (The Indonesian Emergency Government) has given them legitimate—wasn’t caused PDRI the republic still exist?—to do it. However, PRRI had defeated, and the Minangkabaunese becoming discourage by the communist. They hate the communist, but they also fear. The defeat brought them into a deep anger but powerless. In other situation, the traditional leaders (datuak), the mosleem natives, and nationalist local leaders are triumvirate in Minangkabau society, but they have been intimidating by Pemuda Rakyat (Communist Youth Organization). Because of had been defeated, for a lot of Minangkabaunese, period of 1958-1965 has driven them to an abhorrence tradition, a tradition of violence to the communist components, but in silence. Nevertheless, months before The Movement of September 30th, physically and verbal violence became solution every conflict between most Minangkabaunese and communist in sporadic, yet in the media. Soon Suharto announce to liquidate Communist Party and its component, in West Sumatra local newspapers are also energetic in writing to clear up them and provocation young people to destroy many symbol of communist in town.

In 13 years period (1966-1979), Army and Muslim people whom anti-Communist are vital cause of killing hundred thousand of communist, including in West Sumatra occurred during the cleansing of PKI. And media, local newspapers, has caused the collective action and inspiring local people to become part of the systematic cleansing of the communist with words. For that goal, the media use many dirty words for Minangkabaunese selves do not uses in daily.

Many writings have talked about Indonesian killing in 1966, but little has revealed how the local newspapers play an important role on it. Analyzing four contents of local newspapers role in West Sumatra during 1966-1979, in this paper I argue the media contributed significantly to resurgence of violence with provocation words into communist, especially in their area.

Peran PDRI dan Sejarah Indonesia Masa Depan

oleh Yudhi Andoni

Tak banyak orang tahu bahwa selain hari AIDS se-dunia dan Hari Ibu, bulan Desember ini juga kita (mestinya) memperingati Hari Bela Negara. Tahun 2006 lalu pemerintah memang telah mengeluarkan Keppres menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara yang didasarkan pada pembentukan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) 60 tahun lalu.

Namun penetapan tersebut tak diikuti dengan ketentuan sebagai hari libur nasional, sehingga wajar hanya masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) saja yang merayakannya, sebab PDRI lahir di daerah ini. Selain itu, perayaan kecil-kecilan juga dilakukan di Jakarta, terutama oleh keluarga para mantan pemimpin PDRI.

Mengapa PDRI begitu penting, sehingga pemerintah, meski setengah hati, menetapkan hari lahirnya sebagai hari bela negara? Apa yang telah dilakukan PDRI?

***

buku-sjahrir2Dalam historiografi modern Indonesia, PDRI memang tak terlalu menonjol dibandingkan peristiwa-peristiwa heroik di Jawa atau yang menjadi kontroversi sejarah. Ia tenggelam oleh heroisme peristiwa 10 November, Serangan Umum 1 Maret, G30S, bahkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang terjadi 10 tahun kemudian (1958).

Bagi pusat dan masyarakat awam, antara PDRI dan PRRI memang sulit dibedakan. Kesamaan tempat lahir dan tokoh-tokohnya membuat banyak orang kadang terselip lidahnya ketika maksudnya PDRI yang terucap adalah PRRI, begitu juga sebaliknya.

Namun diantara kedua peristiwa tersebut jelas terdapat perbedaan esensi sejarah yang dalam. PDRI merupakan upaya penyelamatan negara akibat agresi militer Belanda, sementara PRRI adalah upaya pemberontakan menuntut otonomi daerah dan gerakan anti-PKI.

***

19 Desember 1948, Belanda menyatakan tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville dan menyerang kota Yogyakarta yang kala itu ibu kota negara. Mereka menawan Sukarno-Hatta dan menyatakan kepada dunia luar bahwa RI sudah berakhir. Namun pada hari itu juga, beberapa jam sebelum penyerbuan, sebuah kejelian sejarah dan juga perhitungan masa depan kebangsaan menekan ego kekuasaan para pemimpin di pusat dengan mengangkat Mr. Syafruddin Prawiranegara sebagai “Ketua” Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang kala itu ada di daerah.

“Keppres” pengalihan kekuasaan memang tidak sampai ke tangan Mr. Syafruddin. Tapi jauh hari sebelum itu, Hatta telah memberi perhitungan matang soal penyerbuan Belanda, dan secara lisan menyampaikan kemungkinan mandat tersebut dikeluarkan. Di atas kebutuhan bangsa dan sejarah Indonesia masa depan, Syafruddin mengambil kepercayaan sejarahnya, meski ia tahu pengangkatannya pasca agresi Belanda itu antara ada dan tiada.

Selama dua bulan komunikasi pusat-daerah terputus, dan kebingungan menjalari para pemimpin, terutama di Jawa menyangkut perjuangan melawan Belanda. Namun oleh kerja keras di tengah rimba Sumatera, berita mengenai adanya PDRI mulai tersebar, meski menggunakan radio sederhana. Koordinasi antarpemimpin sipil-militer dengan “ibu kota darurat” di Bidar Alam, Sumbar sana, menjadi efektif oleh siaran itu, dan adanya tinggkat kepercayan (trust) yang tinggi para pemimpin di Jawa. Untuk pertama kali dalam sejarah modern Indonesia, Jawa menjadi “daerah” dan luar Jawa menjadi “pusat”.

Lewat siaran-siaran radio somewhere in the jungle kemudian, PDRI mampu menunjukan eksistensi republik yang dinyatakan telah hilang oleh Belanda. Alhasil, propaganda negatif Belanda mentah dan menjadi titik balik bagi perjanjian baru, Roem-Rojen, yang berakhir pada pengakuan kedaulatan RI.

***

Ada beberapa ganjalan sejarah Indonesia menyangkut peristiwa pasca perjanjian Roem-Rojen itu. Pertama, utusan republik dalam perjanjian itu ilegal karena mereka diangkat oleh tawanan yang tak lagi memiliki kekuasaan. Moh. Roem sebagai ketua delegasi diangkat oleh Sukarno, bukan Syafruddin. Namun, selama ini keilegalan itu sengaja dilupakan (amnesia historis) terutama oleh penguasa. Amnesia sejarah memang salah satu cara pelegitimasian mana sejarah yang patut dikenang, dan mana yang mesti dilupakan demi satu maksud kekuasaan.

Kedua, pemakaian istilah pengakuan dan penyerahan kedaulatan. Dua istilah ini mengandung makna politis dan fakta sejarah. Makna politis dari pengakuan kedaulatan memberi gambaran bahwa selama revolusi fisik (1945-1949) heroisme dan patriotisme merupakan penentu keberhasilan perjuangan, dan kemudian melahirkan mitos-mitos di seputar kehidupan para pemimpin militer dan perjuangannya. Mitos Serangan Umum 1 Maret, misalnya, justru menegasikan kehadiran PDRI sebagai penyangga republik. Namun realitanya, dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang tertulis adalah penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada Pemerintah Indonesia. Ini artinya, keberhasilan perjuangan melawan kolonial diputuskan di meja perundingan.

Ketiga, fase titik anti-klimaks PDRI ketika Presiden Sukarno meminta Syafruddin mengembalikan mandat yang telah diberikannya. Anehnya, apa yang mesti dikembalikan jika sampai akhir PDRI, Syafruddin tak pernah menerima naskah pengalihan itu. Dan bagaimana cara pengembalian mandat tersebut?

Seorang sejarawan Perancis menyatakan, sejarah kadang menjadi panggung guyonan waktu bagi kita sekarang. PDRI dan cerita sejarahnya selain mengharukan, juga menyimpan kelucuan yang menyebabkan kita geleng-geleng kepala. Namun terpenting dari itu adalah refleksi sejarahnya bagi kita dan sejarah masa depan bangsa ini.

Tak berapa lama lagi negeri ini kembali memilih para pemimpinnya. Puluhan partai dan ribuan calon wakil rakyat “mengadu untung” demi kursi kekuasaan. Patut dipertanyakan, Pemilu 2009 mendatang merupakan ajang kompetisi atau penguatan saling kepercayaan di antara mereka (mutual trust) membangun bangsa ini ke depan.

Para pemimpin PDRI dalam fase singkat sejarahnya adalah cermin bahwa elite kita sesungguhnya memiliki akar yang kuat untuk saling bekerja sama dan bisa saling membangun komunikasi politik yang baik. Kepercayaan pusat terhadap daerah, keberanian membuat kebijakan di tengah krisis, dan kearifan politik di atas konflik kekuasaan, merupakan langkah-langkah taktis dan strategis meniti krisis global saat ini. Persoalannya adalah bisakah kita mengambil cermin sejarah itu, atau justru melenggang ke depan dengan mematikan lampu penerang di belakang.

Normalisasi Sosial

oleh William Chang

Sebuah proses normalisasi sosial sangat dibutuhkan karena seluruh globus sedang sakit dan mengalami great warming (bdk B Fagan, The Great Warming: Climate Change and the Rise and Fall of Civilizations, 2008).

Sejak terjebak kejahatan, manusia mengalami proses denormalisasi sosial berupa gerakan premanisme yang mengultuskan teori survival of the fittest. Penyalahgunaan kuasa dalam wujud tindak kekerasan dan hukum rimba meruntuhkan peradaban manusia. Politik homicide gaya Herodes termasuk aksi denormalisasi sosial. Proses sosial ini dikategorikan sebagai langkah awal kekacauan sosial.

Gerakan imperialisme moral kontemporer memperparah denormalisasi ini melalui indoktrinasi dogmatis dalam masyarakat majemuk. Konvergensi moral bangsa kita seharusnya terbangun dari himpunan warisan kearifan lokal. Pentingnya tatanan normatif berupa hukum positif tidak diperhitungkan dalam hidup sosial. Akibatnya, peran norma sosial dirobohkan.

Rentetan konflik primordial di Kongo, Nigeria, India, dan tanah air lambat laun merombak seluruh sendi normalisasi sosial di tengah krisis global. Cetusan emosional yang berlebihan mencerminkan manusia hidup di luar garis norma kemanusiaan. Terasa dangkal pendidikan tentang etika sipil yang mempromosikan nilai-nilai global yang diterapkan secara lokal (etika global).

Normalisasi tatanan sosial

Menteri luar negeri Jerman, Frank-Walter Stienmeier dalam wawancara dengan Deutschland (Agustus/September 2008), antara lain, menekankan pentingnya Tatanan Antarbangsa Baru (New International Order) di tengah globalisasi yang mengalir kencang. Tatanan baru ini mengusung semboyan ”A Time to Make Friends” yang disosialisasi sejak 2006. Situasi dunia yang tidak normal perlu ditata ulang sambil memerhatikan isu-isu seperti perubahan iklim, menyusutnya SDA, konflik sosial, terorisme internasional, dan tatanan dunia yang berkutub majemuk. Stabilitas dan keamanan dunia perlu mendapat perhatian dalam proses normalisasi sosial ini.

Program normalisasi ini dimotori roh persaudaraan antarwarga dalam masyarakat majemuk. Keadilan dan kesejahteraan (sosial) diperjuangkan dalam proses ini. Krisis apa pun perlu di-manage agar tidak membahayakan seluruh tatanan sosial. Sebuah pendekatan sosiologis berwawasan komprehensif dan holistik akan menolong normalisasi ini sebab vested interests sering menungganggi sebuah kekacauan sosial. Sebenarnya, mengapa dan ada apa di balik kekacauan sosial?

Asas normalisasi sosial ini ditemukan dalam hati (heart) dan pikiran (head) setiap manusia yang berkehendak baik untuk mereformasi tatanan sosial yang menderita dan sakit melalui usaha terkecil dalam lingkup hidup masing-masing. Keterbukaan dan kejujuran dalam komunikasi sosial tak terhindarkan dalam masyarakat toleran. Topeng-topeng sandiwara dalam masyarakat kita sudah saatnya ditanggalkan agar dialog sosial tumbuh lebih baik.

Menyikapi pesan keagamaan

Tanpa menginstrumentalisasi dan memanipulasi peran agama, salah satu sumbangan konstruktif normalisasi sosial di tengah krisis global adalah pesan Natal PGI dan KWI 2008 yang terfokus pada masalah damai. Masalahnya, bagaimanakah damai bisa sungguh mendarat di bumi kita yang terpengaruh krisis global?

Menghadapi pengangguran massal pada tahun mendatang, damai akan terwujud jika kasus kelaparan dan kemiskinan teratasi. Kesejahteraan hidup ditingkatkan, antara lain dengan mengatur lalu lintas perekonomian pada skala terkecil sebagai langkah antisipatif kekacauan sosial. Tersedianya peluang kerja, makanan, minuman, pakaian, dan perumahan adalah modal dasar damai (W Brandt, 1980).

Selain itu, stabilitas dan keamanan bangsa menurut cita-cita pendirian bangsa termasuk penjinak aneka bentuk konflik sosial yang merugikan kehidupan bersama. Paradigma klasik yang memanipulasi konflik sosial sebagai pelestarian kekuasaan sudah saatnya ditinggalkan. Masa divide et impera sudah berlalu. Dinantikan sebuah manajemen yang sanggup mentransformasi atmosfer konfliktual menjadi wadah harmonisasi antaranasir sosial.

Proses normalisasi sosial bakal menyeimbangkan perilaku agresif dan destruktif manusia (Erich Fromm) dengan pembentukan sikap antikekerasan (rumah tangga, sekolah, tempat kerja dan masyarakat) sehingga terwujud kesejukan sosial. Normalisasi ini menyuburkan benih kemanusiaan dan menjinakkan unsur hewani dalam diri manusia. Pendekatan humaniora menjadi langkah awal normalisasi sosial.

Normalisasi ini akan lebih cepat terwujud jika tiap anak bangsa menjadikan hatinya sebagai tempat persemaian benih-benih damai yang menyejukkan diri dan sesama. Nilai-nilai di balik norma-norma etis, religius, hukum, politik, ekonomi dan kebudayaan diwujudkan dalam hidup harian. (Kompas, 22 Desember 2008)

Perkenalkan mahasiswa sejarah generasi baru nih…

dsc01255Perkenalkan kami Uda, Uni, Bapak, Ibu…