• Categories

  • Yang Terbaru

  • Archives

  • December 2016
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Jejak Rekam

Selamat Idul Fitri

Taqabballahu minna wa minkum wa ja ‘alana

Minal Aidin wal faidzin

Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikan kita orang-orang yang kembali dalam keadaan suci
dan yang mendapatkan kemenangan!

AMIN

Pengurus

Bakti Mahasiwa Baru Sejarah

Mulai tanggal 28-31 Agustus ini mahasiswa jurusan sejarah akan melaksanakan serangakaian acara pengenalan kampus yang dinamakan Bakti. Kegiatan ini tak jauh beda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, yakni tiga hari di tingkat Unand dan tiga hari di fakultas.

Di tingkat fakultas sendiri kegiatan ini diisi dengan berbagai materi yang melibatkan jurusan dan pengurus alumni sejarah. Di antara kegiatan itu adalah pengenalan jurusan dan kurikulum, organisasi kemahasiswaan, dan peluang karir. Untuk peluang karir ini materi akan diberikan oleh ketua alumni, Drs. Zulkifli Aziz pada hari Minggu (29/8).

HIMA Sejarah Workshop di Arau Payakumbuh

Himpunan Mahasiswa (HIMA) Sejarah berencana mengadakan workshop penelitian dan penulisan di Arau, Payakumbuh, Kab. 50 Kota. Workshop ini membawa mahasiwa baru jurusan sejarah angkatan 2008 dan sebagian besar mahasiswa sejarah serta dosen.

Workshop akan diadakan selama tiga hari, mulai Jumat sore (20/2) sampai Minggu sore (22/2).

Sejak tahun 2007 orientasi mahasiswa baru yang dikenal KBM mulai berganti dengan nama Workshop. Kegiatan ini nantinya akan membekal mahasiswa baru itu dengan pelatihan-pelatihan skill dasar, serta menghadirkan para alumni yang nantinya berbagi pengalaman dengan adik-adiknya.

Panitia menyampaikan bahwa dalam workshop itu nanti mahasiswa baru 2008 akan diberi materi praktek latihan pengumpulan data, mengenal sejarah sebagai ilmu, latihan penelitian sejarah, dan latihan kepemimpinan. Panitia berharap kegiatan workshop ini akan menjadi ajang penguatan hubungan senior-yunior, dan bekal dasar mahasiwa baru menjalani kehidupannya sebagai keluarga besar jurusan sejarah Unand.

Sabar dan Eni May Kembali Pimpin Jurusan Sejarah

Drs. Sabar, M.Hum dan Dra. Eni May, M.Si kembali terpilih sebagai ketua dan sekretaris jurusan sejara periode 2009-2013 mendatang. Pemilihan telah dilakukan pada tanggal 16 Februari 2009.

Selain agenda pemilihan, rapat jurusan sejarah juga menginformasikan secara informal bahwa akan dibuka tawaran dosen Luar Biasa (Dosen LB). Namun terdapat beberapa persyaratan yang akan dikonfirmasi ulang dalam rapat jurusan selanjutnya. Catatan penting dari kembali dibukanya penerimaan dosen LB ini adalah tak ada garansi mereka yang akan diterima menjadi dosen tetap dalam penerimaan PNS.

Segalanya diserahkan dalam mekanisme penerimaan PNS oleh kantor kementrian PAN/Diknas. Informasi lebih lanjut silahkan kontak Drs. Sabar, M.Hum (081363449344), atau Prof. Dr. Herwandi, M.Hum (081363435343) atau Drs. Zulqayyim, M.Hum (08126707302).

Jurusan Pilih Ketua Baru

Jika tak ada aral Senin depan (16/2) Jurusan Sejarah akan memilih ketua jurusan baru periode 2009-20013. Ketua baru ini akan menggantikan Drs. Sabar, M.Hum dan Dra. Eni May, M.Si sebagai ketua dan sekretaris jurusan periode sebelumnya.

Pemilihan akan dilakukan oleh para staf pengajar dengan pertimbangan dan masukan dari mahasiswa dan alumni. Partisipasi alumni dan mahasiswa dalam bentuk memberi masukan perbaikan jurusan ke depan sangat dibutuhkan oleh jurusan sejarah. Ke depan tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa jurusan sejarah jauh lebih kompleks dan kompetitif. Untuk itu pengalaman para alumni yang sudah bergelut dengan dunia kerja sangat dibutuhkan untuk kelancaran program jurusan 4 tahun ke depan.

Sulit memprediksi siapa yang akan menjadi ketua jurusan nanti. Apalagi di waktu bersamaan tahun ini akan ada pemilihan Dekan Fakultas Sastra. Kita tentu berharap siapa pun yang duduk di jurusan bukanlah “buangan” dari kekalahan di arena “Dekan Award” itu.

Kini jurusan tengah berada dalam fase krisis! Input mahasiswa jurusan sejarah jauh dari pendahulunya. Mentalitas copy-paste, Pulang Kampung Selalu (PKS) tiap libur, minat rendah terhadap ilmu sejarah–karena konon memang mereka yang diterima beberapa tahun belakangan rata-rata lulus dengan nilai 5 ke bawah–berseliweran dengan apatisme dosen yang melihat mereka (mahasiswa) sebagai objek rutinitas. Penurunan minat calon mahasiswa di jurusan yang akhirnya meraup mereka yang bernilai rendah jangka pendek memang langkat taktis supaya tiap tahun mahasiswa jurusan sejarah ada! Tapi untuk jangka panjang hal ini justru mengharamkan kualitas lulusan. Apakah ini solusi krisis ini? Maka dari itu jurusan ini mesti mendudukan orang yang tepat dalam kondisi kritis ini!

Krisis itu memang gejala umum dunia ilmu sosial. Namun apakah kita juga akan mengikuti arus asumsi itu? Apakah tidak ada terobosan yang lebih marketable untuk para tamatan urusan ini? Berharap banyak dari staf pengajar melakukan inovasi yang marketable itu, bagaikan maminta sisiak ke limbek.

Dalam momen penting ini, kita berharap kepada para alumni untuk memberi masukan dan timbang solusi bagi perbaikan jurusan ke depan. Termasuk perbaikan kurikulum dalam bentuk mata kuliah dan jaringan untuk meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap ilmunya.

Masukan-masukan itu nanti akan kami bawa ke rapat jurusan. Semoga mendapat apresiasi!

The Role of Islamic Student Association (HMI) Against 30 September Movement in Padang (1965-1967)

by Israr

Students played an important role in confronting communist political movement in Padang City during 1965-1967. Their participation affected the political constellation in the ‘New Order’. Their actions clearly occurred after ‘the 30 September Movement’ (Gerakan 30 September – G30S) with involvement of Indonesian Communism Party (PKI) exploded in central Jakarta in 1965. These students action was not only can be seen in long march and protests event but also in social actions.

Student’s movement in opposing communism can be said as reformist group. Their movement became a turning point for their existence to reduce the power of communist group and ‘guided democracy’ regime at that time. Student’s movement had widely spread not only in the central Jakarta which known as center of political movements, but also in some regions including Padang City, a region in West Sumatra with large number of students in several universities.

In Padang, Islamic Students Association (Himpunan Mahasiswa Islam-HMI) had a significant role against communist movement. Additionally, they also practiced the ‘revenge politics’ to the strong power of Soekarno regime with his ‘Old Order era’. In West Sumatra, the power of Old Order era was associated with ‘enemy’. This idea came up because of Indonesian Communist Party under ‘protection’ of the Old Order era. Furthermore, the regime in this era crushed the movement of the Revolutionary Government of the Indonesian Republic (Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia – PRRI) in 1958-1961. PRRI is a political movement of West Sumatran people who did not satisfied with the Soekarno regime government in central Jakarta that practice centralized system and ‘guided democracy’. This movement was supported by people in West Sumatra, such as students and politicians. History recorded in the late fifties, activists of HMI in Padang and West Sumatra became a major organization who supported the PRRI movement.

As a large student organizations, member of HMI after G30S in 1965 had major role to maintain the New Order era which led by military in central Jakarta, Their role were not only in Jakarta but also had an impact on other provinces, such as West Sumatra and Padang. Since the early of New Order era, activists of HMI expanded and dominated in some universities in Padang. Furthermore, HMI alumni widely spread to the political field and other fields including economic and education. This involvement of activists of HMI was a part of their consolidation to the New Order in West Sumatra.

LOCAL NEWSPAPERS AND FACE OF KILLER:A Verbal Violence in Indonesian Journalism 1966-1979

by Yudhi Andoni

This is a brief discusses about hidden violence in Indonesian journalism, particularly local newspapers that published at Padang, West Sumatra, Indonesia. They are “Angkatan Bersenjata”, “Aman Makmur”, “Haluan”, and Singgalang. In west Sumatra, they are one of many generate of violence with their news and articles about communist party and its follower’s organization. This article calls it a verbal violence. Their news and articles have gone down a lot of abhorrence into the communist, mainly on months before, the episode, and after The Movement of September 30th. I found many words refer to drive the peoples into social’s scream about communist. Atheist, betrayer of nation, killer of Muslims, a social treatment, etc, are idiom that they used. For the reader, those idioms have created negative stigma about communist and show them that revenge is a good way to erase the communist party in their land, especially after gloomy period of PRRI (Indonesian Republic Revolutionary Government) in 1958.

For the Minangkabaunese, PRRI is a correction to Jakarta and they feel they have moral task to remain Jakarta. History of PDRI (The Indonesian Emergency Government) has given them legitimate—wasn’t caused PDRI the republic still exist?—to do it. However, PRRI had defeated, and the Minangkabaunese becoming discourage by the communist. They hate the communist, but they also fear. The defeat brought them into a deep anger but powerless. In other situation, the traditional leaders (datuak), the mosleem natives, and nationalist local leaders are triumvirate in Minangkabau society, but they have been intimidating by Pemuda Rakyat (Communist Youth Organization). Because of had been defeated, for a lot of Minangkabaunese, period of 1958-1965 has driven them to an abhorrence tradition, a tradition of violence to the communist components, but in silence. Nevertheless, months before The Movement of September 30th, physically and verbal violence became solution every conflict between most Minangkabaunese and communist in sporadic, yet in the media. Soon Suharto announce to liquidate Communist Party and its component, in West Sumatra local newspapers are also energetic in writing to clear up them and provocation young people to destroy many symbol of communist in town.

In 13 years period (1966-1979), Army and Muslim people whom anti-Communist are vital cause of killing hundred thousand of communist, including in West Sumatra occurred during the cleansing of PKI. And media, local newspapers, has caused the collective action and inspiring local people to become part of the systematic cleansing of the communist with words. For that goal, the media use many dirty words for Minangkabaunese selves do not uses in daily.

Many writings have talked about Indonesian killing in 1966, but little has revealed how the local newspapers play an important role on it. Analyzing four contents of local newspapers role in West Sumatra during 1966-1979, in this paper I argue the media contributed significantly to resurgence of violence with provocation words into communist, especially in their area.