• Categories

  • Yang Terbaru

  • Archives

  • November 2007
    M T W T F S S
        Dec »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Jejak Rekam

Aswandi Syahri, Mengorek Arsip dan Menulis Sejarah (angkatan ’89)

aswandi-syahrir.jpg

(Kompas, 26 November 2007):
Buku-buku sejarah tertata rapi di kamar Aswandi Syahri (37). Beberapa koleksi naskah penting dan gambar dari sejarah Melayu juga dipajang di dinding kamar dengan pigura kaca. Di lantai kamarnya masih tertumpuk arsip, bekas surat yang terbuang saat perpindahan Kantor Bupati Kepulauan Riau.

Aswandi merasa sayang ketika arsip itu dibuang tanpa diseleksi terlebih dahulu. Oleh karena itu, ia pun berinisiatif mengambil tumpukan arsip tersebut dan mengumpulkannya. Selain arsip, Aswandi juga mengoleksi dan mencari naskah Melayu dan gambar-gambar. Salah satu koleksi gambar yang dipajang di kamarnya adalah Cogan.

“Cogan merupakan simbol dan peralatan kebesaran Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang,” kata Aswandi, yang tinggal di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Cogan itu pernah dirampas Belanda tahun 1822. Saat ini Cogan disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Cogan ternyata menyimpan banyak cerita. Oleh karena itu, Aswandi pun menulis buku Cogan, Regalia Kerajaan Johor-Riau-Lingga, dan Pahang. Buku itu ditulis dan diterbitkan tahun 2006 melalui kerja sama dengan Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Provinsi Kepulauan Riau.

Untuk menulis buku, memang tidak mudah. Minat terhadap sejarah saja tidak cukup, tetapi harus didukung dengan pengetahuan lain yang diperoleh dari berbagai sumber. Menggeluti sumber sejarah tentu membutuhkan ketekunan tersendiri.

Bahkan, Aswandi sering kali harus memburu naskah Melayu yang tersimpan di perpustakaan di luar negeri. “Saya juga mencari naskah Melayu di Leiden, Belanda, melalui seorang teman yang belajar di sana,” katanya.

Naskah-naskah itu kemudian dikirim ke Tanjung Pinang. Tidak hanya perpustakaan di Leiden, naskah-naskah Melayu juga dicari di perpustakaan Royal Asiatic Society, Inggris, melalui kenalan atau temannya di sana.

Naskah Melayu

Aswandi juga mencari naskah-naskah Melayu yang disimpan di perpustakaan Central Library di Singapura dan National University of Singapore. “Kalau di Singapura, saya pergi dan mencari sendiri,” katanya.

Dengan “melahap” naskah-naskah dan buku-buku sejarah, Aswandi memiliki pengetahuan sejarah. Dengan latar belakang itu, ia tidak terlalu sulit menerjemahkan buku yang spektakuler, yaitu In Everlasting Friendship; Letters from Raja Ali Haji ke dalam bahasa Indonesia. Buku itu ditulis seorang sejarawan Jan van der Putten dan diterbitkan tahun 1995.

Buku terjemahan Aswandi diberi judul Dalam Berkekalan Persahabatan; Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall, dan diterbitkan pada Januari 2007. “Saya mau menerjemahkan buku itu karena buku itu bagus dan penting,” kata Aswandi. Pada mulanya, ia langsung saja menerjemahkan buku Jan van der Putten tersebut.

Setelah ingin dicetak, Aswandi baru meminta izin kepada penulisnya, Jan van der Putten. Penulis sempat membahas dan membicarakan buku terjemahan dan rencana penerbitan dalam bahasa Indonesia.

Buku yang diterjemahkan Aswandi itu memuat kumpulan surat-surat Raja Ali Haji, seorang tokoh dan penulis Melayu terkemuka pada abad ke-19. Raja Ali Haji juga menulis dua karya termasyhur, yaitu Gurindam XII dan Tuhfat al-nafis.

Surat-surat Raja Ali Haji yang dirangkum dalam buku Jan van der Putten itu ditujukan kepada Hermann Von de Wall, seorang sarjana kelahiran Jerman dan pegawai Pemerintah Hindia Belanda, pada kurun waktu 1857-1872. Hermann ditugaskan untuk menyusun kamus bahasa Melayu-Belanda.

Menurut Aswandi, Hermann telah mencari berbagai pakar dan ahli sastra Melayu untuk menyusun kamus bahasa Melayu-Belanda. Pada akhirnya, Hermann mengenal Raja Ali Haji dan menjalin hubungan surat-menyurat untuk mendapatkan bahan dan masukan dalam penyusunan kamus Melayu-Belanda.

“Dalam surat-surat Raja Ali Haji itu, terlihat pemikiran-pemikiran Raja Ali Haji yang sederhana dan sangat terbuka,” kata Aswandi. Raja Ali Haji yang taat beragama Islam juga cukup akrab dan terbuka dengan budaya Barat.

Selain Raja Ali Haji, lanjut Aswandi, masih ada tokoh Melayu lain yang cukup intensif berhubungan dengan tokoh-tokoh besar di Eropa. Misalnya, Yang Dipertuan Muda Riau VIII, Raja Ali Marhum Kantor yang hidup pada abad ke-19.

Raja Ali Marhum, menurut Aswandi, menjalin hubungan yang sangat akrab dengan Raja Prusia, Frederick William. Hubungan yang akrab itu dapat terlihat dari surat Raja Ali Marhum kepada Raja Frederick. Surat Raja Ali Marhum itu tersimpan di Museum Ethnologische, Jerman.

Dalam surat Raja Ali Marhum pada tahun 1846, Raja Ali Marhum menyampaikan ucapan terima kasih atas kiriman surat dan hadiah dari Raja Frederick William berupa lampu mahkota, bunga, serta kain berlapiskan sutra dan emas.

Raja Frederick mengirimkan hadiah itu karena peran Raja Ali Marhum dalam membantu pembangunan Gereja Kristen dan pekerjaan misi oleh pendeta EH Rottger asal Jerman di Tanjung Pinang. “Lampu mahkota dari Raja Frederick itu sekarang masih tergantung di masjid di Pulau Penyengat,” kata Aswandi.

Mengenal sejarah

Dari pendalaman naskah dan buku-buku sejarah Melayu itulah, Aswandi mampu mengenal sejarah Melayu, menerjemahkan buku sejarah dan menulis beberapa buku sejarah yang lebih populer.

Buku-buku tersebut, misalnya, buku Raja Ali Kelana (2006), buku Mak Yong, Teater Tradisional Kabupaten Kepulauan Riau (2005), buku berupa kumpulan tulisan budaya Identitas Budaya, Kepulauan Riau (2005). Masih ada beberapa buku lain yang direncanakan ditulis.

Penulisan buku-buku yang lebih populer itu sangat penting untuk melestarikan naskah dan budaya Melayu. Naskah-naskah Melayu saat ini cenderung ditinggalkan dan hanya menjadi arsip yang tersimpan.

Ketertarikan Aswandi terhadap dunia sejarah, khususnya sejarah Melayu, sudah dialami sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku SD kelas III, rumah orangtuanya dimanfaatkan untuk kamar kos.

Beberapa guru sempat tinggal di rumah orangtua Aswandi yang dijadikan tempat kos itu. Saat penghuni kamar kos pindah, banyak buku-buku yang ditinggalkan. Aswandi pun kemudian mulai membacai baca buku-buku yang ditinggalkan, termasuk buku sejarah.

Dari pengalaman masa kecil itulah, minat Aswandi terhadap sejarah, khususnya sejarah Melayu, mulai tumbuh. Bahkan, saat masuk ke perguruan tinggi ia mengambil Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang.

Minat dan ketertarikan terhadap sejarah Melayu tetap melekat pada Aswandi sampai sekarang. Saat ini pun, dari penelitian-penelitian bahan-bahan sejarah, ia juga mampu mengenal dan menemukan tumpukan kerang setinggi 4-5 meter di areal sekitar perkebunan kelapa sawit di kawasan Kawal Darat, Kawal, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Tumpukan kerang itu diperkirakan merupakan sampah dapur (kjokkenmoddinger) pada masa prasejarah. Dari temuan itu, pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bintan segera meminta Pusat Penelitian Arkeologi Nasional untuk menyelidiki temuan tersebut.

“Dari hipotesis sementara ini, kami memperkirakan tumpukan kerang itu merupakan sampah dapur pada masa prasejarah,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bintan Khazalik.

Penduduk setempat atau masyarakat mengenal bukit itu sebagai benteng “batak” atau bukit kerang. Menurut Aswandi, ia sering membaca literatur terkait dengan tempat yang disebut sebagai benteng batak atau bukit kerang. Namun, pada mulanya ia belum mengetahui bahwa tumpukan kerang di Kawal itu merupakan sampah dapur peninggalan masa prasejarah.

“Pada masa itu, di Pulau Bintan sudah ada kehidupan dan kebudayaan manusia yang hidup pada masa prasejarah. Hal itu tentu bermanfaat untuk promosi wisata,” kata Aswandi.

19 Responses

  1. Mantap Bang Aswandi. Salam kenal dari ambo…

  2. Tes

  3. Terimakasih Yud. Salam kenal juga. Mungkin kita belum pernah basobok, tapi ambo tau tentang Yudhi dari Da Wan. Dengan adinyo blog ko, tambah dakek rasonyo Limau Manih…………

  4. Wah, ini menarik. Bisa kangen-kangenan dan tukar informasi. Rindu juga kembali Padang, entah kapan ada waktu luang, semoga ada yang mengundang, minimal jadi pendengar, jika ada acara yang dibuat. Selamat buat Da Wan dan rekan Israr, membanggakan saya punya teman-teman seperti mereka…

  5. Selamat untuk Aswandi Syahri. Semoga Tetap berkibar

  6. Majoe teroes Aswandi. Lah sudah proyek ENDANGERED ARCHIVES PROGRAMME itu? Sampaikan salam ka konco alia ambo ciek, Jan van der Putten Datuak Putiah nan Tinggi.

  7. Tulihlah hasil temuan dalam Proyek ENDANGERED ARCHIVES PRORAMME tu untuak JURNAL INDONESIA AND THE MALAY WORLD atau ARCHIPEL. Kontak Dr. Annabel Teh Gallop atau Dr. Henri Chambert-Loir.

  8. Thanks Pak Herwandi. Selamat menjalankan tugas sebagi PD I Fakultas Satra Unand. Tapi Jurusan Jan dilupokan. Titip salam buat Pak Adam

  9. Apo kabar urang Leiden. Alah sudah Disertasi tu?????

    Haha haha……. ambo baru tau kanti Uda Suryadi tu bagala Datuak Putiah nan Tinggi. Alah belewaan gala datuak tu……lai babantaian Kabau ??????.

    Proyek ENDACH jo British Librarary to baru kami mulai bulan Desember ko. Insyallah tangan 21 Desember ko Jan dengan satu kawan ahli karateh datang ka Tanjungpinang dan kami akan buek kenduri do’a salamaik di Pulau Penyengat. Ambo baru pulang dari NUS (Singpore) manyiapkan alat-alat untuk proyek tu jo Jan. Kami baru kursus mamakai kodak digital di Canon Centre.

    Insyaallah ambo tulih tamuan-tahum dalam proyek tu. Kabetulan ambo alah basuo jo Annabel waktu inyo ka Pulau Penyengat sekitar dua bulan nan lalu.

  10. Apa Kabar HBK

    Aku Salut, kamu sangat flofic dalam menulis…..maju trus!!!!!!

    Kapan-kapan aku pengen ketemu. Ada yang ingin aku tanyakan tentang Novel Bulang Cahaya, karena beberepa bagian cerita dalam novel itu juga aku bahas dalam buku terbaruku tentang Temenggung Abdul Jamal dan Sejerah Temenggung Riau-Johor-Lingga-dan Pahang.

  11. Thanks Pak Herwandi. Selamat menjalankan tugas baru sebagai PD I Fakultas Sastra Unand. Tapi jurusan Sejarah jan dilupokan. Titip salam ambo untuak Pak Adam Zubir.

  12. Terima kasih kepada administrator yg sudah menghubungkan blog ini ke web kantor saya di (Faculteit der letteren Univ. Leiden). Sebaiknya juga di-link-kan ke web Center of non Western Studies (CNWS) Leiden University dan IIAS (International Instituut of Asian Studies) Leiden University, yang mengandung banyak info yang mungkin berguna bagi teman2 di Padang.

  13. Dear All

    Saya setuju dengan ide Ni Mel. Sudah saatnya Jurusan Sejarah Unand melirik teknologi audio visual dan multi media untuk kepentingan studi dan pengembangan ilmu sejarah.

    Tahun ini, mulai 1 Desember 2007 hingga 14 bulan kedepan, saya bersama DR. Jan van der Putten (Dept of Malay Studies NUS-Singapore), dan Alex Teoh (seorang ahli kertas dan konservasi manuskrip di Singapura) mulai mengerjakan sebuah proyek bertajuk: Riau Manuscripts: The Gateway to the Malay Intelectual World yang dibiayai oleh Endangered Archives Programme British Library (Perpustakaan Kerejaan Inggris).

    Kegiatan ini adalah Pilot Project untuk menyelamatkan arsip dan bahan sumber sejarah, khususnya manuskrip dan arsip yang masih ada dalam simpanan masyarakat —di Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Daik Lingga, Karimun, Tambelan, dan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau — ke dalam format digital melalui pemotretan.

    Insyaallah, kegiatan yang saya lakukan ini akan disiarkan melalui Metro TV dalam program OASIS pada tanggal 29 Desember 2007, sekitar pukul 13.00 Wib. Kalau rekan-rekan ada waktu luang, cobalah lihat.

    Untuk Sumatere Barat, program serupa yang juga ditaja oleh British Library dilaksanakan oleh Pak M. Yusuf dari F. Sastra Unand (khusus untuk manuskrip Minangkabau).

  14. Mohon info alamat email Sdr. Aswandi. Saya sms beliau tidak menjawab.

  15. Dear All

    Saya mohon maaf karena karena kegiatan pendokumentasian manuskrip dan arsip Riau yang sedang saya lakukan batal ditayangkan Metro TV pada tanggal 29 Desember lalu karena persoalan teknis.

    Kabar terakhir yang terima dari Metro TV (via saudari Dria – katanya dia kenal dengan Ni Mel) dokumentasi kegiatan tersebut akan disiarkan pada tanggal 5 Januari mendatang. Masih dalam program yang sama, OASIS sekitar pukul 13.00 Wib. Semoga tak ada perubahan lagi.

    Beribu-beribu maaf karena saya lambat memberi informasi tentang perubahan ini.

    Wassalam

    Aswandi Syahri

  16. Assallamualaikum Bang .
    saye anak Tanjung Unggat kebetulan saye juge sekarang ketue Badan Independent Pengembangan Aset Sejarah Hulu Riau. untuk itu mungken saye perlu waktu unok berdiskusi sme abang tentang sejarah hulu Riau. karene sye bermaksod akan membuat Balai Maklumat Sejarah Hulu Riau di Sungai Carang. kalau boleh abang bantu atau turot serte bolehlah bang. ni no telp saye sms je bang 0811-704898 atau 0771-312230 .

  17. mudah-mudahan bisa dijadikan bahan referensi didalam pembuatan skripsi bagi teman-teman yang ingin menulis skripsi. dan jangan pelit-pelit untuk berbagi sumber.

    Thank

    Ardiansyah
    06 181 035

  18. Thanks buat Ardiansyah.

    Tentu, saya akan berbagi apa yang ada pada saya seandainya itu ada gunanya untuk perkembangan ilmu sejarah. Kebetulan beberepa kawan dari luar negeri sudah ada yang menggunakannya. Dengan catatan tentu hanya boleh baca di tempat ya!!!!!!!

    Kalau boleh saya minta sedikit penjelasan. Apakah anda Ardiansyah BP 90, seanggkatan Azmi Fitrisia?

    Wassalam
    Aswandi Syah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: