• Categories

  • Yang Terbaru

  • Archives

  • December 2007
    M T W T F S S
    « Nov   Jan »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Jejak Rekam

Menggugat Imam Bonjol

Tanggal 14 Desember 2007 Fakultas Sastra akan mengadakan Focus Group Discussion bertema, Mencari Historiografi Paderi yang Komprehensif. Acara itu menampilkan pemrasaran Prof. Dr. Bustanuddin Agus, Dr. Phil. Gusti Asnan, dan Wisran Hadi. Turut menghadiri Rektor Unand, dekan Fakultas Sastra, Prof. Dr. Mestika Zed, Darman Moenir, Kamardi Rais Dt. Simulie, dan para pemerhati sejarah budaya Sumatera Barat.

imam-bonjol.jpgAcara itu merupakan respon terhadap berbagai polemik yang terjadi akhir-akhir ini di Jakarta dan Sumbar menyangkut dua buah buku yang ditulis oleh O. Parlindungan dan Basyral Hamidy Harahap. Buku itu berjudul Tuanku Rao yang kembali diterbitkan tahun ini, dan Greget Tuanku Rao. Dua buku tersebut menjadi “tamparan sejarah” bagi masyarakat Minangkabau terkait gugatannya terhadap kekerasan etnik kaum Paderi di tanah Batak pada abad ke-19 lalu dan pencopotan gelar pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol. Sejarah bagaimanapun akhirnya menjadi perujuk terhadap kebenaran dan keadilan oleh satu pihak; si penulis buku dan yang setuju dengan isi buku, dan mereka yang menolaknya.

Tapi begini! Sebagai sejarawan persoalan di atas mesti dilihat dalam pemahaman kesejarahan yang jernih. Sejarah, tak bisa dilepaskan pada dua hal yang amat penting; sejarah sebagaimana ia terjadi dan sejarah sebagaimana ia dipahami.

Sejarah sebagaimana terjadi, ia terlepas dari jamahan si sejarawan. Ia murni terjadi akibat proses sebab-akibat dari aktivitas manusia masa lampau. Sebagai sejarah yang “terjadi”, ia merangkum hukum sejarah “sekali untuk selamanya”.

perang-padri.pngBerbeda halnya dengan sejarah sebagai objek yang dipahami dan dikisahkan kembali. Dalam gejala ini, unsur subjektifitas pengarang telah dimulai, yakni ketika pertanyaan-pertanyaan penelitian disusun dan teori atau konsep apa yang akan dipakai untuk memandunya telah mulai dicanangkan. Demikianlah, penekanan dan interpretasi akan bergulir seiring munculnya rasa simpati dan empati dari si peneliti atau penulis sejarah. Jika demikian, adalah lumrah terjadi pergeseran-pergeseran makna terhadap satu peristiwa atau aktivitas manusia masa lampau itu di tangan mereka. Pergeseran penekanan dan perubahan interpretasi itu terjadi karena berbagai sebab, tetapi yang paling jelas adalah, hal itu semata-mata karena berlalunya waktu dan peristiwa-peristiwa yang tersingkap kemudian (J.D. Legge, Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta: Grafiti-Freedom Institute,1993: 2).

Sejarawan Taufik Abdullah menyatakan, setiap peristiwa sejarah yang terjadi sama halnya dengan sebuah teks. Sebagaimana teks, ia telah berhenti ketika pena si penulis diletakan di samping kertas-kertas kerjanya. Sebagaimana juga teks, yang tertinggal hanya kenangan dan ruang untuk ditafsirkan oleh si pembaca. Berarti, pengalihan akan terjadi pada setiap yang membaca dan itu juga berarti heterogenitas tafsiran terhadap “teks” itu.

Pada kasus dua buku tersebut, tak dipungkiri, O. Parlindungan dan Basyral Hamidy berusaha menafsirkan sebuah “teks” sejarah. Sebuah tafsiran “a la” mereka.

Dalam “Ruang Sejarah” ini, kami menilai polemik atau kontroversi di seputar masalah tersebut tak bisa dilepaskan pada praktek atau cara penafsiran terhadap peristiwa Paderi di abad ke-19 lalu dan peranan Imam Bonjol. Dan karena polemik dari semua itu bermula dari dua karya sejarah di atas, maka masalah fakta dan penilaian juga terkait di dalamnya, terutama bagi orang Minangkabau.

Bukankah Imam Bonjol adalah simbol kebesaran Islam dan betapa murninya Islam di Minakabau, sehingga sungguh merupakan satu “dosa” membiarkan Sang Tuanku dihina dan dilecehkan? Meski itu hanya merupakan sebuah tafsiran di sekeliling tafsiran-tafsiran yang lebih “positif”?

Yah, selera penafsiran dalam kajian sejarah kadang kala kata Legge lebih semu ketimbang rill, karena lebih banyak menyingkapkan perbedaan pendapat pada ahli sejarah mengenai apa yang layak diteliti daripada apa yang sebenarnya terjadi. Jika demikian, dalam konteks inilah FGD bertema Mencari Historiografi Paderi yang Komprehensif tanggal 14 Desember ini dilihat dan dimaknai.

yudee21.jpgBagi kami, acara itu bukanlah wahana bagi pembenaran dan pencarian keadilan sejarah terhadap “memar” tonjokan Parlindungan dan Basyral dalam karya-karya mereka. Sebab, benar menurut siapa dan adil dalam tataran apa jika hendak menuju ke sana. Apa yang menjadi indikator terhadap kebenaran dan keadilan itu. Sejarah sekali lagi, ia adalah teks yang telah berakhir dengan tarikan heterogenitas tafsiran! Kalau begitu, hanya ada kearifan sejarah yang pada dasarnya tidak memihak, tapi memahami dalam menangkap makna masa lalu, perhatian masa kini, dan proyeksi kebajikan di masa datang. Dan kami percaya itu!

* Artikel ini juga dimuat di http://ruangsejarah.wordpress.com. Pada kategori sketsa.

6 Responses

  1. Menurut opini bebas saya, walaupun saya belum baca bukunya. Bisa dilihat O. perlindungan memang sudah lama mencoba meng mark up kan kaum batak, bahkan bukunya yang pertama Tuanku Rao, parlindungan dengan nekadnya membuat sebuah buku yang keabsahan buktinya sangat minim (buktinya telah dibakar katannya) dan dia juga dengan sengaja berkhayal tentang tuanku Rao tersebut. Juga dari buku Prof.Hamka, Antara fakta dan khayal tuaku Rao bisa dilihat bahwa parlindungan bisa dibilang mengarang bebas tentang historiografi fase-fase sejarah dunia.

    Bagi saya pengalaman diatas telah membuat saya apriori pada Parlindungan dan terhadap buku “a la” nya tersebut.

    Semoga dalam diskusi tanggal 14 desember nanti bisa mengambil keputusan-keputusan yang bijak tentang tentang bagaimana nasib sejarah yang sebenarnya.

  2. Nama pengarang Greget Tuanku Rao itu BASYRAL Hamidy Harahap, bukan BUSYRAL… Jadi, sebaiknya kesalahan itu direvisi dalam artikel ini.

  3. Terima kasih atas revisi Bang Suryadi. Dengan ini kami telah merevisi nama si penulis dan mohon maaf atas kesalahan penulisan itu.

    Salam

  4. Walau bagaimana pun, Imam Bonjol hanyalah seorang manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan. Apa pun kesalahan yang telah dilakukannya, tidak akan pernah menghapus catatan, bahwa dia pernah mempertahankan Benteng Bonjol yang terdiri dari rumpun bambu dan tanah liat itu selama lebih dari setahun. Bayangkan dengan Benteng Alamo di San Fransisco yang hanya bisa dipertahankan selama 3 hari. Alangkah menyedihkan bila perjuangan beliau untuk menegakkan Islam dan mengusir penjajah di Ranah Minang terhapus dengan catatan hitam beliau di Mandailing.

  5. Ya Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai hanya manusia biasa sama seperti Almarhum Jendral Suharto, beliau menentang penjajahan Belanda di era perjuangan kemerdekaan, walaupun Almharhum Presiden Suharto banyak melanggar HAM dan dituduhkan korupsi ia sudah selayaknya dijadikan dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Masa Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai yang sama punya sisi hitam dalam perjuangannya diangkat menjadi pahlawan sedangkan ALmarhum SUharto tidak?

  6. assalamu’alaikum…

    salam kenal untuak uda-uda dan uni-uni alumni sejarah unand..

    ttd
    anggun gunawan
    filsafat ugm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: