• Categories

  • Yang Terbaru

  • Archives

  • October 2008
    M T W T F S S
    « Sep   Dec »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Jejak Rekam

Berhenti Menjual Nasib Guru

Oleh Emil Mahmud

Ada dua hal menarik dari usulan Departemen Pendidikan Nasional yang mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp.14,4 triliun, untuk peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Pertama, usulan itu terkesan ada ‘bau’ politisnya karena pengesahan RAPBN, terpaut dengan momentum agenda pemilihan presiden (pilpres) 2009. Kedua, memang menjual ‘nasib guru’ kiranya masih laku sebagai komoditas untuk mencuri simpati di negeri ini.

Seperti dikutip dari Kompas, Rabu (20/8), anggaran tersebut merupakan bagian dari total penambahan anggaran pendidikan sebesar Rp.46,1 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009.

Guru selalu menjadi bahan perbincangan yang seakan tidak pernah ada habisnya. Selama ini, perbincangan seputar guru seolah tidak pernah ada basinya. Alhasil, yang mengemuka adalah tentang kehidupan guru yang masih memprihatinkan dan miris.

Kenyataannya, potret dari guru di tanah air Indonesia kiranya belumlah secemerlang di negara asing. Sebagai contoh di negara jiran, tetangga Malaysia dan Brunei keberadaan guru sebegitu besar dihargai oleh negaranya. Ada saja penghargaan dan penghormatan khusus yang diperuntukkan buat guru selaku abdi negara.

Tidak mencengangkan kalau minat orang untuk menjadi guru di negeri tetangga tersebut antusias. Keinginan mereka yang memilih profesi sebagai guru pun seolah tidak kunjung surut. Pada saat itu, menjadi guru selalu dipandang sebagai sesuatu idaman.

Namun, bagaimana dengan keberadaan guru di Indonesia? Sebuah potret buram selalu dihadapi oleh mereka yang ingin memilih profesi sebagai guru atau tenaga pendidik di sekolah. Tidak berlebihan kalau musisi kondang tanah air, Iwan Fals menjadikan potret buram guru itu sebagai tema karya lagunya berjudul “Oemar Bakri”. Utamanya, tentang sepenggal kisah seorang guru bernama Oemar Bakri yang kehidupan keluarganya serba kekurangan. Ironisnya, pengabdiannya tidak mampu membayar lunas beban hidupnya.

Ilustrasi yang dikemukakan oleh Iwan Fals jelas tidak mengada-ada. Potret kehidupan guru yang ditemukannya dari melodrama kehidupan seorang Oemar Bakri sebagai guru adalah realistis. Hingga kini pun, tidak mustahil masih dapat ditemui potret guru yang sesungguhnya pantas untuk diangkat harkat dan martabatnya. Ungkapan terima kasih guru, kiranya perlu dipikirkan utamanya sejurus dengan pemecahan masalah ironisme kehidupan guru.

Sejauh ini, masih ada guru pendidik sekolah dasar (TK/SD), termasuk sekolah menengah masih bergelut dalam suatu proses perjuangan hidupnya. Yakni perjuangan, untuk menjadi tauladan sesungguhnya agar tidak sampai diolok-olok oleh muridnya karena strata sosialnya tergolong miskin.

Ironisnya, pemberian apresiasi berupa tunjangan semisal gaji tambahan, belumlah dapat dikatakan solusi global dalam mempercepat kesejahteraan guru. Menurut penulis, akar permasalahannya dikarenakan belum adanya program untuk mensejahterakan guru yang efektif.

Tepat Sasaran

Ke depannya, jika tambahan anggaran sebanyak Rp14,4 triliun disahkan oleh parlemen atau lembaga legislatif di negeri ini akankah membawa ke arah yang lebih baik. Dalam arti, adakah perubahan terhadap mutu yang dihasilkan melalui produk pendidikan yang diterapkan di negeri ini. Sejauh ini, prestasi pendidikan Indonesia yang terukur seperti rangking perguruan tinggi se-Asia saja, Indonesia telah berada di bawah posisi Vietnam.

Jika satu dekade sebelumnya, perguruan tinggi seperti Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia dan atau Institut Teknologi Surabaya yang masih mengungguli perguruan tinggi yang ada di negara di Asia Tenggara, termasuk Vietnam. Kala itu, peringkat perguruan tinggi tersebut masih mampu menembus posisi 20 besar se-Asia. Namun, kini untuk menembus 20 besar saja, kini rasanya relatif sulit apalagi untuk menembus papan atas dalam kategori khusus dimaksud.

Beruntung, muka negeri ini masih mampu diselamatkan oleh putra-putri bangsa, yang prestasinya mampu berbicara dalam olimpiade sains tingkat dunia. Misal, anak didik dari Profesor Yohanes Surya yang berulangkali mengukir prestasi dengan raihan medali emas olimpiade sains (bidang studi Ilmu Fisika) untuk tingkat dunia.

Kendati, tidak mudah untuk mencetak pahlawan di bidang pendidikan itu. Guru sesungguhnya, yang dipandang sebagai instruktur yang membina anak didiknya hingga berprestasi itu sudah selayaknya mendapat apreseasi langsung oleh negara. Misal, untuk urusan uji kompetensi, guru dimaksud seyogyanya langsung lolos uji sekaligus berhak atas kelipatan gajinya.

Adanya, program bagi guru untuk mendapatkan kompetensi dan layak untuk lulus uji kompetensi hendaknya tidak sekadar diukur dari berkas porto-folio. Melainkan juga harus disertai, dengan bukti keterlibatannya dalam mengangkat prestasi anak didiknya. Mengingat penyaluran anggaran untuk mensejahterakan para guru melalui pos anggaran kesejahteraan guru itu, mesti tepat sasaran.

Konsekuensinya, perlu memotivasi guru supaya makin giat mencetak prestasi anak didiknya. Hal yang sama, seyogyanya diikuti pula oleh para dosen yang dituntut sanggup mencetak prestasi mahasiswanya. Dosen juga diharapkan mampu mengusung perguruan tinggi di negeri ini agar membuat prestasi seperti halnya dilakukan para guru tingkat, SD, SMP dan SMA.

Kesejahteran guru dan dosen, memang mutlak menjadi milik mereka para pahlawan tanda jasa. Hanya saja arah kebijakan yang taktis dan strategis negara juga semestinya tandas dan tegas. Hak dapat diberikan kepada mereka, apabila memang pantas untuk mendapatkan dengan prestasi yang terukur dan terarah berstandar kinerja dan prestasi.

Alangkah sayangnya, duit negara untuk kesejahteraan guru dan dosen sebesar Rp 14,4 triliun nantinya sebatas modal jual kecap bagi kandidat pasangan Calon presiden (Capres) pada saat Pilpres 2009. Apalagi komunitas guru yang mencapai jutaan di negeri ini, adalah potensial menangguk suara bagi kandidat saat pilpres 2009 mendatang. Melihat pengalaman terdahulu, dari setiap pemerintahan presiden yang berbeda pasca orde baru, kampanye menjual penderitaan guru masih selalu dicantumkan.

Berbeda dengan Iwan Fals, kini jelas dia tidak akan terpanggil lagi untuk mengkomersilkan nasib guru . Iwan barangkali tidak berniat untuk merilis Oemar Bakrinya, atau menulis lirik lagu tentang penderitaan guru kalau guru sudah digaji tinggi dibanding yang didapat sebelumnya.

Penutup

Terakhir, sebagai catatan penutup kiranya perlu ada perenungan tentang nasib guru ke depan. Apakah nasib guru akan terus membaik seiring kebijakan pemerintah di negeri ini, menggiring terus kesejahteraan itu ke gerbang emasnya. Satu hal yang patut dicermati, adakalanya negara mengabaikan nasib guru, dan hal itu pernah dialami para guru, termasuk anak-anaknya.

Tidak perlu bertanya, kapan dan dimana nasib guru yang miris itu pernah terjadi di negeri ini. Penulis mempersilakan kepada siapapun, jawabannya dapat diajukan kepada musisi kondang Iwan Fals. Setidaknya, Iwan mengetahui persis dan menuangkan ke dalam lirik lagunya berjudul Oemar Bakri. Sebagai cerminan fenomena sosial di masanya, karya seni (lagu) Oemar Bakri adalah fakta berupa potret buram tentang nasib guru. Kalaupun Iwan, sanggup membuat Oemar Bakrie sebagai karya best seller, akan tetapi yang dilakukannya bukan menjual nasib guru.

Imbauan itu sepatutnya menjadi warning, bagi politisi dan calon pemimpin negeri ini. Sebaiknya, berhentilah menjual nasib guru buat jualan kecap guna berkampanye. Berikan sajalah, yang menjadi hak guru sesuai pengabdiannya. Angka triliunan rupiah buat kesejahteraan guru itu sudah sewajarnya dinikmati oleh Pahlawan tanpa Tanda Jasa itu.

Penulis, seorang kuli-tinta dan anak seorang guru, alumnus Sejarah Unand

One Response

  1. Assalamualaikum, Wr Wb.
    Salam sejahtera buat semuanya, rekan2& alumni IKA Sejarah,
    Perkenankan lebih dulu kalau saya selaku penulis opini yang mesti menurunkan komentar. Adapun komentar bukan untuk menggadang-gadangkan hasil karya tulis itu. Namun, komentar ini lebih kepada pengerahan untuk memancing respon dari pembaca blog IKA Sejarah. Sebab, situs ini memang telah bersusah payah diadakan rekan-rekan yang menggawangi blog ini. Fasilitatornya tentunya tidak ingin web ini hanya dipelototi saja kan?! Kasihan moderatornya, nganggur iya nggak Bung Yudhi? Tapi kinerja rekan2 di dapur redaksi blog lumayan oke. Segala informasi yang diposting sangat up-to date, misal tampilan opini, karya tulis, resensi buku dlsb yang akan dan telah dipublikasi di media dengan cepat terbaca. Begitu pula forum diskusi grup diakomodir secara kencang layaknya speedy. Untuk itu, silakan menanggapi opini, ayo mulai dari para dosen sejarah dulu turun tangan kan bakal diiming-iming insentif triliunan rupiah oleh negara. Enak gak? kok diam saja ngomong donk hehehe… Mohon maaf dalam canda ini, sekian dulu terima kasih atas atensinya.
    Pangkalpinang 31/11/2008
    emil mahmud/BP/91

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: