• Categories

  • Yang Terbaru

  • Archives

  • January 2009
    M T W T F S S
    « Dec   Feb »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Jejak Rekam

LOCAL NEWSPAPERS AND FACE OF KILLER:A Verbal Violence in Indonesian Journalism 1966-1979

by Yudhi Andoni

This is a brief discusses about hidden violence in Indonesian journalism, particularly local newspapers that published at Padang, West Sumatra, Indonesia. They are “Angkatan Bersenjata”, “Aman Makmur”, “Haluan”, and Singgalang. In west Sumatra, they are one of many generate of violence with their news and articles about communist party and its follower’s organization. This article calls it a verbal violence. Their news and articles have gone down a lot of abhorrence into the communist, mainly on months before, the episode, and after The Movement of September 30th. I found many words refer to drive the peoples into social’s scream about communist. Atheist, betrayer of nation, killer of Muslims, a social treatment, etc, are idiom that they used. For the reader, those idioms have created negative stigma about communist and show them that revenge is a good way to erase the communist party in their land, especially after gloomy period of PRRI (Indonesian Republic Revolutionary Government) in 1958.

For the Minangkabaunese, PRRI is a correction to Jakarta and they feel they have moral task to remain Jakarta. History of PDRI (The Indonesian Emergency Government) has given them legitimate—wasn’t caused PDRI the republic still exist?—to do it. However, PRRI had defeated, and the Minangkabaunese becoming discourage by the communist. They hate the communist, but they also fear. The defeat brought them into a deep anger but powerless. In other situation, the traditional leaders (datuak), the mosleem natives, and nationalist local leaders are triumvirate in Minangkabau society, but they have been intimidating by Pemuda Rakyat (Communist Youth Organization). Because of had been defeated, for a lot of Minangkabaunese, period of 1958-1965 has driven them to an abhorrence tradition, a tradition of violence to the communist components, but in silence. Nevertheless, months before The Movement of September 30th, physically and verbal violence became solution every conflict between most Minangkabaunese and communist in sporadic, yet in the media. Soon Suharto announce to liquidate Communist Party and its component, in West Sumatra local newspapers are also energetic in writing to clear up them and provocation young people to destroy many symbol of communist in town.

In 13 years period (1966-1979), Army and Muslim people whom anti-Communist are vital cause of killing hundred thousand of communist, including in West Sumatra occurred during the cleansing of PKI. And media, local newspapers, has caused the collective action and inspiring local people to become part of the systematic cleansing of the communist with words. For that goal, the media use many dirty words for Minangkabaunese selves do not uses in daily.

Many writings have talked about Indonesian killing in 1966, but little has revealed how the local newspapers play an important role on it. Analyzing four contents of local newspapers role in West Sumatra during 1966-1979, in this paper I argue the media contributed significantly to resurgence of violence with provocation words into communist, especially in their area.

4 Responses

  1. artikel yang menarik… tapi disini saya tidak begitu tertarik dengan masalah surat kabar lokal itu. saya lebih tertarik dengan peristiwa pembantaiannya. kalau memang saudara yudhi mempunyai bukti-bukti kuat, hal ini akan sangat menarik untuk di jadikan sebagai skenario film. karena setahu saya belum ada cineas yang mengangkat masalah ini dari sisi yang netral. yah mungkin filmnya seperti film genocida rwanda lah seperti Hotel Rwanda, Shooting Dog dan lain sebagainya. film film tersebut mendapat penghargaan dari festival2 film internasional. ayo bergerak…. siapa tahu alumni sastra unand bisa jadi pelopor lahirnya film ini.

  2. aduh maaf ya bahasa inggeris gue 5,5 , tolong dong artiin dalam bahasa kita !

  3. Media Massa Lokal dan Wajah si Pembunuh:
    Sebuah Kekerasan Verbal dalam Jurnalisme di Indonesia
    (1966-1979)

    Ini merupakan diskusi singkat tentang kekerasan verbal media massa lokal di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Media-media yang dimaksud adalah “Angkatan Bersenjata”, “Aman Makmur”, “Haluan”, dan “Singgalang”. Salah satu pemicu kekerasan pasca peristiwa G30/S adalah berita-berita dan artikel opini koran-koran lokal tersebut terhadap PKI dan organisasi pendukungnya, baik sebelum peristiwa, ketika peristiwanya terjadi, dan pasca kejadian. Kekerasan itu tidak berbentuk pisik, tapi kata-kata (verbal) yang menggambarkan orang-orang PKI sebagai atheis, pengkhianat bangsa, pembunuh, ancaman mengerikan, dan sebagainya. Berita-berita menyangkut PKI maupun artikel opini selama periode tersebut menunjukan sebuah keberpihakan serta penyulut kemarahan dan kebencian yang pada akhirnya membentuk sebuah stigma PKI sebagai ancaman laten yang secara moral sah untuk dihancurkan dalam artian luas pasca peristwa G30/S itu terjadi. Selama kurun 13 tahun itu, Angkatan Darat (AD) dan orang Islam yang anti PKI menggunakan media-media massa lokal itu sebagai corong mendoktrinasi pembaca bahwa PKI dan para pendukungnya—yang aktif atau sekedar setor nama—adalah setan, babi—binatang menjijikan—dan anjing yang patut ditangkap atau dibunuh karena telah meresahkan dan menghancurkan umat Islam. Selain itu, dramatisasi kematian 7 jenderal yang diulas dengan penuh emosional telah membangkitkan ketakutan sekaligus kemarahan orang banyak terhadap perangkat lokal seperti kantor, plang nama, pengurus, dan orang-orang yang dianggap dekat dengan Partai Komunis.

    Pertanyaan utama dari topik makalah ini adalah mengapa begitu cepat gerakan politik AD yang dimotori oleh Jenderal Suharto menumpas PKI mendapat sambutan di daerah-daerah. Bagaimana koran Angkatan Bersenjata, Aman Makmur, Haluan, dan Singgalang memberitakan ataupun merespon perubahan tersebut. Bagaimana para redaktur media lokal itu mengambarkan apa yang tengah terjadi itu dan hubungannya dengan PKI lokal.

  4. Hal utama dalam tema penulisan kali ini ada sisi penting, bahwa Sdr. Yudhi telah mengetuk sebuah pintu sejarah yang kemungkinan selama ini tertutupi. Menurut saya, dalam segala segi, didasari orisinalitas dan temuan baru maka uraian yang diposting oleh Sdr.Yudhi tetap dipandang menarik untuk dicermati.
    Saya kira sdr.Yudhi telah membuka sebuah draft tentang tesis bahkan disertasinya terkait tema yang diangkatnya kali ini. Kalau pun iya, tentu diharapkan menjadi salah satu karya yang mampu menjadi sumber referensi tentang sejarah pers dan kebijakan di masanya. Kita memang butuh orang-orang yang kritis dan menemukan hal-hal baru atau menguburkan teori usang yang selama ini membodohi kita?!
    Selamat meneliti, Sdr.Yudhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: